well.
Selalu begitu. Tanpa diundang kau selalu datang. Mengejutkanku. Menenggelamkanku. Kemudian pergi. Dulu aku menangis. Lalu sempat marah. Tapi tidak sekarang. Aku tlah terbiasa. Mencari udara di dalammu. Mungkin tlah tumbuh insang. Adaptasi morfologi.
Kau tanyakan bahasaku yang menjadi bahasamu juga. Untuk apa? Tak perlu. Tak perlu. Kita satu. Tapi selalu meragu. Kau. Aku. Karena kujawab pula akhirnya. Bye. Kau kembali menghilang. Dan aku kembali bersalsa sendiri. Tanpa kau. Bahkan tanpa bayanganku. Sebab sorot sang dewi ikut pergi bersamamu.
Aku tak menangis. Tak lagi menangis. Aku tak marah. Tak lagi marah. Aku hanya menari. Tap dance. Sendiri. Tetap menggairahkan. Berdua mungkin lebih meriah. Tapi sendiri pun ramai. Aku belajar darimu. Untuk terus menari. Hingga tiba saatnya Manuet mengalun… dan ~~~~
No comments:
Post a Comment