Aku hanyalah sesuatu yang mencari.
Bila bertemu, bertemulah aku.
Dan jika tidak bertemu, tidak bertemulah aku.
Aku hanyalah sesuatu yang mencari.
Bila bertemu, bertemulah aku.
Dan jika tidak bertemu, tidak bertemulah aku.
Berlarian di lingkaran setan.
Membunuh atau terbunuh.
Mengejar rotasi takdir hingga diburu pemburu.
Tertusuk lalu busuk.
Jadi mumi aku.
Tersuruk merajuk kecup.
dunia..
Meninggikanmu hingga menjebol dinding langit
Kumampu-mampukan saja meski layu
Gravitasi membawamu kembali jejaki bumi
Langitku bocor setelah kujebol
Pun bumiku kotor berhias tapak teror
Terhenti di satu titik.
Keterpurukan.
Lama menggapai-gapai tuk mencapai langit.
Sebab tak pernah memaafkan diri.
Sebab tak mampu.
Tuk ciptakan Langit sendiri.
Kumaafkan.
SMS.
Menyelamatkan gw dari banyak hal.
Dari kehilangan lo… Dan ternyata gw menikmati sensasi ini.. Menunggu.
Mendebarkan. Memberi harapan bagi gw. Membuat gw gak lagi ingin membunuh hidup gw. Membuat gw ingin menatap esok, bertemu pagi, siang, malam, dini hari hingga gw bertemu dengan lo.
Ternyata menunggu itu tidak diam.
Suatu hari, ketika gw lelah menyejajari matahari dan bulan, gw akan pulang. Di sana telah menunggu seseorang atau terkadang gw yang menunggu. Betapa nikmatnya. Bahkan saat kini ketika gw hanya bisa membayangkannya, gw sudah merasakan nikmatnya. Bersandar pada hidupmu. Menggelayuti masa depanmu. Merasai nafas jiwamu.
Dan untukmu. Betapa nikmatnya berlarian memburu dunia ini ketika seseorang di pojok dunia menantikanmu. Benar-benar menantikanmu, bukan yang lain. Hanya kamu. Dan dari jarak satu tikungan, ia sudah mencium bau tubuhmu.
Menunggu dan berjuang. Titik dan koma. Aku dan kamu. Betapa melengkapi. Aku suka menunggumu. Aku suka memperjuangkanmu.
Dan.. maukah kau berlarian hingga bercucuran keringat untukku? Kujamin, saat kau pulang, kan kubasuh tubuhmu. Lelapkanku. Lelapkanmu.
Apa lagi?
Terima kasih. Sangat.
Detak
Detik
Berlarilah
Biar
Tak
Kurasakan
Sunyi
HariHari
Menarilah
Agar
Waktuku
Indah
Percepat
Langkahmu
Dunia
Hingga
Hilang
Lara
Dan
Hanya
Cinta
Tersisa
Kumohon
Jangan
Luka
Menganga
Langitmu
dikagumi
Pendamba
kedamaian
Dianggap surga
peneduh jiwa rapuhnya
Dan kau yang dinaungi
merasa takut tersambar
muatan elektron berlebih
Hanya perlu penghantar
Bukan gemuruh guntur yang seharusnya kau takuti, Hon..
Lari dan sembunyi di kolong meja hanya karena takut tersambar petir itu konyol!
Kematian itu telah lewat!
Pada gelegar guntur hanya tinggal kepongahan langit!
Tak perlu takut, Hon..
Hujan…
Bawalah mendung bersamamu
Curahkan semua rindu air pada tanah
Pada Laut Sang Ibu
Waktu…
Bawalah detakdebar jantungku
yang meracik rindu melulu padamu
meski kini bukan waktuku
Satu kala pernah membuat tubuhmu begitu dekat denganku
Hanya perlu melempar pandang dan kau ada di dekatku
Kala ini tiap depa menciptakan palung antara kau dan aku..
Bagaimana bisa?
Sunyi entah mendekapmu mengapa
Mengapa riuh pula yang kau rasa
Langkahmu saja kau anggap ramai
Tap Dance
kau suka..
Pada paradoks yang kau genggam
Sambil berharap suatu saat kau pun
terjamah
Pernahkah kau cari bayanganmu
yang tiba-tiba menghilang?
Dan setelah berputar-putar
seperti anjing mengejar ekornya sendiri,
kau tersadar:
Tak ada cahaya,
tak ada bayangan!
well.
Selalu begitu. Tanpa diundang kau selalu datang. Mengejutkanku. Menenggelamkanku. Kemudian pergi. Dulu aku menangis. Lalu sempat marah. Tapi tidak sekarang. Aku tlah terbiasa. Mencari udara di dalammu. Mungkin tlah tumbuh insang. Adaptasi morfologi.
Kau tanyakan bahasaku yang menjadi bahasamu juga. Untuk apa? Tak perlu. Tak perlu. Kita satu. Tapi selalu meragu. Kau. Aku. Karena kujawab pula akhirnya. Bye. Kau kembali menghilang. Dan aku kembali bersalsa sendiri. Tanpa kau. Bahkan tanpa bayanganku. Sebab sorot sang dewi ikut pergi bersamamu.
Aku tak menangis. Tak lagi menangis. Aku tak marah. Tak lagi marah. Aku hanya menari. Tap dance. Sendiri. Tetap menggairahkan. Berdua mungkin lebih meriah. Tapi sendiri pun ramai. Aku belajar darimu. Untuk terus menari. Hingga tiba saatnya Manuet mengalun… dan ~~~~