Pages

Friday, July 23, 2010

Mencari Manusia

Aku hanyalah sesuatu yang mencari.

Bila bertemu, bertemulah aku.

Dan jika tidak bertemu, tidak bertemulah aku.

Antara Tanduk Setan

Tak lagi ada nabi. Berkali aku jadi sesat. Tak mencoba susupi goa pemuda kahfi. Berlarian saja di antara tanduk setan. Tidak menjadi gelap dan tidak tinggalkan terang. Aku manusia.

Diburu Pemburu

Berlarian di lingkaran setan.

Membunuh atau terbunuh.

Mengejar rotasi takdir hingga diburu pemburu.

Tertusuk lalu busuk.

Jadi mumi aku.

Tersuruk merajuk kecup.

dunia..

Menjebol Dinding Langit

Meninggikanmu hingga menjebol dinding langit

Kumampu-mampukan saja meski layu

Gravitasi membawamu kembali jejaki bumi

Langitku bocor setelah kujebol

Pun bumiku kotor berhias tapak teror

Janji Mati

wanita hidup dengan janji
yang berdenyut di nadinya
tiap garis biru
di lengan, di leher
di tiap bagian tubuhnya yang
j teringkar mengalir darah segar berbuih
deras hingga habis
kemudian sang wanita menangis
LirihPerihSedihRingkihdanTertatih
menunggu janji lain yang pasti: MATI

Mencari-Mu

ketika diri tak disibukkan dengan segala, jiwa terhirup dalam aliran ruh.membawa diri dengan jiwa didampingi logika masuk ke dalam ruang lapang yang hampa.namun tetap dapat bernafas.tak ada udara untuk hidupku.tak ada.hanya ada engkau kekasih.cinta.cinta.cinta.kuhirup.biasa saja.tidak terengah.tidak lemah.sederhana.hingga bulu-bulu halus di wajahku dapat mengalun.gerakmu sederhana.tanpa kekuatan.namun tidak lemah.hanya ada engkau.engkau.dalam daging.dalam darah.dalam hijau dan biru uratku.ketika semua kusayat.hanya demi mencarimu.dan ternyata kau tak ada di mana.tak ke mana.ada di sini.tak pergi.ada padaku.dekat denganku.kulukai diriku.kulukai dirimu.maaf.aku hanya mencarimu.ternyata kau di sini.tak ke mana.jangan pergi yusti.dan dia kan tetap bersamamu.

Maaf Untuk Diri

Terhenti di satu titik.

Keterpurukan.

Lama menggapai-gapai tuk mencapai langit.

Sebab tak pernah memaafkan diri.

Sebab tak mampu.

Tuk ciptakan Langit sendiri.

Kumaafkan.

Menunggu Menyenangkan

SMS.

Menyelamatkan gw dari banyak hal.

Dari kehilangan lo… Dan ternyata gw menikmati sensasi ini.. Menunggu.

Mendebarkan. Memberi harapan bagi gw. Membuat gw gak lagi ingin membunuh hidup gw. Membuat gw ingin menatap esok, bertemu pagi, siang, malam, dini hari hingga gw bertemu dengan lo.

Ternyata menunggu itu tidak diam.

Suatu hari, ketika gw lelah menyejajari matahari dan bulan, gw akan pulang. Di sana telah menunggu seseorang atau terkadang gw yang menunggu. Betapa nikmatnya. Bahkan saat kini ketika gw hanya bisa membayangkannya, gw sudah merasakan nikmatnya. Bersandar pada hidupmu. Menggelayuti masa depanmu. Merasai nafas jiwamu.

Dan untukmu. Betapa nikmatnya berlarian memburu dunia ini ketika seseorang di pojok dunia menantikanmu. Benar-benar menantikanmu, bukan yang lain. Hanya kamu. Dan dari jarak satu tikungan, ia sudah mencium bau tubuhmu.

Menunggu dan berjuang. Titik dan koma. Aku dan kamu. Betapa melengkapi. Aku suka menunggumu. Aku suka memperjuangkanmu.

Dan.. maukah kau berlarian hingga bercucuran keringat untukku? Kujamin, saat kau pulang, kan kubasuh tubuhmu. Lelapkanku. Lelapkanmu.

Apa lagi?

Terima kasih. Sangat.

Taifun!

jalan itu melingkar
membuat pusaran
menjadi taifun
tak pernah gentar
masuk di pusaran
mencapai titik
nadir
akhir
kita berhasil

Kejar Takdir

Detak

Detik

Berlarilah

Biar

Tak

Kurasakan

Sunyi

HariHari

Menarilah

Agar

Waktuku

Indah

Percepat

Langkahmu

Dunia

Hingga

Hilang

Lara

Dan

Hanya

Cinta

Tersisa

Kumohon

Jangan

Luka

Menganga

Elektron

Langitmu

dikagumi

Pendamba

kedamaian

Dianggap surga

peneduh jiwa rapuhnya

Dan kau yang dinaungi

merasa takut tersambar

muatan elektron berlebih

Hanya perlu penghantar

Mencari Bahumu

Bukan gemuruh guntur yang seharusnya kau takuti, Hon..

Lari dan sembunyi di kolong meja hanya karena takut tersambar petir itu konyol!

Kematian itu telah lewat!

Pada gelegar guntur hanya tinggal kepongahan langit!

Tak perlu takut, Hon..

Rindu Mendung

Hujan…

Bawalah mendung bersamamu

Curahkan semua rindu air pada tanah

Pada Laut Sang Ibu

Waktu…

Bawalah detakdebar jantungku

yang meracik rindu melulu padamu

meski kini bukan waktuku

Bagaimana Bisa?

Satu kala pernah membuat tubuhmu begitu dekat denganku

Hanya perlu melempar pandang dan kau ada di dekatku

Kala ini tiap depa menciptakan palung antara kau dan aku..

Bagaimana bisa?

Tap Dance

Sunyi entah mendekapmu mengapa

Mengapa riuh pula yang kau rasa

Langkahmu saja kau anggap ramai

Tap Dance

kau suka..

Pada paradoks yang kau genggam

Sambil berharap suatu saat kau pun

terjamah

Tentang Aku

Pernahkah kau cari bayanganmu

yang tiba-tiba menghilang?

Dan setelah berputar-putar

seperti anjing mengejar ekornya sendiri,

kau tersadar:

Tak ada cahaya,

tak ada bayangan!

Tap Dance

well.

Selalu begitu. Tanpa diundang kau selalu datang. Mengejutkanku. Menenggelamkanku. Kemudian pergi. Dulu aku menangis. Lalu sempat marah. Tapi tidak sekarang. Aku tlah terbiasa. Mencari udara di dalammu. Mungkin tlah tumbuh insang. Adaptasi morfologi.

Kau tanyakan bahasaku yang menjadi bahasamu juga. Untuk apa? Tak perlu. Tak perlu. Kita satu. Tapi selalu meragu. Kau. Aku. Karena kujawab pula akhirnya. Bye. Kau kembali menghilang. Dan aku kembali bersalsa sendiri. Tanpa kau. Bahkan tanpa bayanganku. Sebab sorot sang dewi ikut pergi bersamamu.

Aku tak menangis. Tak lagi menangis. Aku tak marah. Tak lagi marah. Aku hanya menari. Tap dance. Sendiri. Tetap menggairahkan. Berdua mungkin lebih meriah. Tapi sendiri pun ramai. Aku belajar darimu. Untuk terus menari. Hingga tiba saatnya Manuet mengalun… dan ~~~~

Maukah Kau?

Mantra kiasmu kadang menyesatkanku
Menyeretku pada pusaran entah apa
Tak apa. Tak apa. Dan sekali lagi tak apa..
Asal kau mau mati dalam pusaran yang sama!!

Cantik!

Diam tak pernah membuatku
atau membuatmu beranjak dari titik ini.
Aku pun tidak memutuskan tuk berlari.
Hanya menjentikkan telunjukku, hanya menatapmu lekat,
dan semua dalam genggamanku.

Teriakan Ibu

Dia masih di situ. Di tempat aku melihatnya tujuh tahun lalu. Masih dalam posisi yang sama. Mengapa kau masih di situ? Beranjaklah! Apa yang mematrimu? Maumu? Kurasa.. ah.. aku merasa-rasa.. menerka-nerka lagi.. Tahu apa aku tentang hidupmu?! Tahu apa aku tentang perasaanmu? Aku tak tahu!! Tak tahu bahwa kau menangis menahan semua pedih. Tak tahu bahwa kau lirih memanggil suamimu. Tak tahu bahwa kau pilu melihat anak gadismu jadi sepertimu. Aku tak tahu.. Tak tahu.. Mengapa aku sampai tak tahu? Mengapa aku tak mau tahu? Mengapa dunia merasa tahu? Bahwa kau dungu. Berada pada titik yang sama bertahun-tahun… Berdepa-depa..

Tahu apa kau tentangku?
Tahu apa kau lelakiku?

Teriakkan itu…