Langkah Ayah
Aku tak pernah melihat sesuatu yang seperti itu. Dan aku pun tak tahu mengapa ada hal aneh itu di
Pria tua itu tak menjawab pertanyaanku. Entah apa pula yang membuatnya begitu mantap melangkah ke
“Ayah. Apa itu?” tanyaku sekali lagi.
“Nak. Ayah pun tak tahu apa namanya.”
“Loh, lalu mengapa kita harus ke sana, Yah?”
“Haruskah semua diberi nama, Nak? Jika sesuatu itu tak bernama, tak maukah kau menghampirinya? Meski kau tahu itu ada? ”
Ayah.. Sepanjang usiaku baru kali ini aku bicara banyak dengannya. Bicara banyak tanpa tahu apa yang sebenarnya kami bicarakan. Tapi tak apalah, setidaknya akhirnya aku bicara dengan pria yang dinamai ayahku oleh ibuku.
Ibu.. Langkah kaki kami kini tak lagi bersamanya. Dia pergi. Memilih untuk pergi, mungkin. Memilih. Satu kata yang tak pernah berani ayah lakukan selama ibu mendampinginya. Dan kini ketika ibu memilih pergi, ayah justru berani memilih.
Sayang. Apa yang kini ayah pilih untuk lakukan tak kumengerti. Mengapa tak duduk diam saja di tempat terakhir kami melihat ibu pergi. Toh ke mana pun kami pergi sudah tak ada pilihan.
Semua akan sama saja. Ke mana kaki melangkah akan sama saja yang terlihat: Kehancuran. Dengan kata-kata apa aku tak dapat menggambarkannya. Sebab ekspresiku telah mati. Ya. Ekspresi bahasaku telah mati. Persis seperti ucapan dosenku dulu semasa kuliah. “Ron! Kalau kau ditanya sesuatu jangan kau jawab ‘Ya, gitu deh.’ Bah! Ekspresi bahasamu sudah mati itu. Bagaimana kau ini. Wartawan macam apa nantinya kau kalau tak punya ekspresi berbahasa lagi ?”
Haha. Aku jadi ingat kata-kata dosenku itu bertahun yang lalu. Ketika aku begitu menggebu ingin jadi wartawan. Mati-matian kemudian aku belajar. Biar jadi wartawan yang tak mempan dibayar. Namun kini semuanya buyar.
Mungkin buyarnya cita-citaku itu bukan baru terjadi saat ini. Ketika semua habis terbakar. Banyak yang seharusnya kuwartakan pada banyak orang. Tapi tak bisa. Orang-orang itu pun telah terbakar. Seperti ibu, seperti adikku, seperti wanitaku..
Bertahun yang lalu ketika aku masih wartawan lugu cita-citaku itu telah buyar. Terbakar amarah yang besar. “Keadilan itu tidak pernah berpihak!” Kalimat yang pongah! Sepongah ayahku yang tidak pernah mau memilih.
Aku tahu ayah cinta ibu. Karena aku laki-laki. Aku tahu. Tapi entah mengapa ayah tak pernah memilih mencintai ibu. Waktu kutanyakan itu, ayah hanya menjawab, “Ayah tak tahu, apa mencintai ibumu itu adalah wujud cinta ayah.” Konyol!
Sama konyolnya dengan redakturku yang tidak tahu seberapa konyol apa yang diperintahkannya. Berkali-kali aku disuruh menulis tentang betapa miskinnya rakyat saat itu. Lalu kutulislah semua kemiskinan yang kulihat. Kutulis tentang betapa miskinnya temanku yang datang ke kantor dengan mobil ayahnya. Kutulis pula tentang betapa miskinnya orang yang pulang dengan kantong belanjaan berselempang.
Eh, aku malah dimaki-makinya. Katanya itu bukan kemiskinan. Di mana orang yang busung lapar itu? Kok, kamu tidak angkat orang-orang yang buntung kakinya dan kemudian memulung? Mana? Gak ada fotonya lagi.. Bagaimana pembaca bisa tahu kalau kemiskinan itu seperti itu kalau kamu gak dapet fotonya…
Saat itu aku langsung linglung. Kok bisa ya redakturku itu begitu miripnya dengan ayahku. Mereka kok berada di dunia yang aku gak ngerti ya.. Tapi saat itu aku tak berhenti melangkah. Aku hanya tak mau kalah.
Tapi kata teman yang satu kantor denganku, aku harus mengalah. Lalu dia ucapkan banyak petuah yang membuatku gerah. Katanya aku harus tahu kapan menyerang, kapan mengalah. “
Waktu aku dipetuahi temanku Rindu, Si Dungu ada di situ. Dia manggut-manggut dan geleng-geleng menanggapi kata-kata Rindu temanku itu. Aku pikir petuah Rindu untuk Si Dungu saja. Karena sepertinya Si Dungu yang lebih mengerti tinimbang aku. Dan Si Dungu dan Rindu pun telah mati. Terbakar api yang menjilat-jilat kantorku.
Uhuk. Bunyi batuk ayah membuatku kembali melaju di atas waktu. Kutatap wajah layu itu. Sudah tua sekali ayahku. Jangan seperti novel picisanlah. Menebak aku baru menyadari betapa tuanya ayahku. Sudah sejak aku pakai seragam abu-abu, aku menyadari ayahku sudah semakin rapuh. Ya, semakin rapuh. Sebab kupikir sejak muda ayahku sudah rapuh. Makanya ayah pilih ibu untuk membuatnya kukuh.
Cinta Rintik
Aku tak pernah merasa seperti rasa itu. Merasa cinta pada Rintik Cinta. Dia wanitaku. Selamanya menjadi wanitaku. Hanya wanitaku. Kuharap.
Hanya bisa berharap memang aku. Sebab aku jadi dungu kalau berhadapan dengan Rintik. Namanya cantik ya? Tapi bukan karena dia cantik maka aku jadi tertarik. Sebab dia yang menyadarkan aku arti titik. “Kamu dan aku punya titik yang berbeda. Lalu mengapa kamu jadi takut, Ron?” Suatu ketika Rintik berkata seperti itu padaku.
Mungkin saat itu aku digelayuti setan bodoh aku jadi menjawab, “Karena aku dan kamu punya titik yang beda, Rin…,” Ya.. ya… Jawaban yang bodoh. Tapi memang itu yang aku rasakan. Aku takut karena aku dan Rintik punya titik yang berbeda. Bisa apa aku menghadapi perbedaan itu? Tak ada. Bagiku tak ada yang bisa kulakukan karena itu.
Benar-benar tak ada yang bisa kulakukan meski kemudian rintik bilang itulah arti penting sebuah garis. Ha? Gila apa dia? Atau aku yang gila? Hah.. Mungkin aku dan dia sama-sama gila makanya sampai saat itu aku dan Rintik berteman.
Rintik selalu hadir dalam waktu lama di hidupku. Rintik. Tidak deras. Tidak datang tiba-tiba, membasahi segala kemudian pergi. Tidak. Rintik datang perlahan, selalu ada, dan menghilang dalam langkah berjinjit. Dia takut aku merasa kehilangan dia. Tapi sempat pula aku berpikir, jangan-jangan dia yang takut kehilangan aku. He?
Rintik pergi. Cinta Rintik hilang. Aku tak tahu lagi dia ke mana, di mana. Rindu Cinta Rintik. Aku ingin dia hadir saat-saat seperti ini. Ketika panas merajalela, ketika semua jadi bara, ketika aku tak tahu mau ke mana. Aku ingin Rintik datang perlahan, lama, menemani kembaraku bersama ayah.
Kembara Lara
“Ayah.. Ayah.. Sampai kapan kita harus berjalan seperti ini? Ayah tak lelah apa? Tak haus? Kita istirahat dulu, Yah. Cari minum.” Sengal nafasku tetap mengiringi langkah ayah yang tak lunglai sedikitpun.
Lelaki itu tak berhenti. Tetap melaju. Meski matanya kuyu. Ayah memang pria yang sulit untuk berhenti melaju. Begitu terburu-buru pikirku. Meski kemudian Ayah bantah. Lalu waktu Ibuku masih ada pun ia turut mengatakan perkataanku gegabah. Ibu bilang, Ayah tak terburu-buru, ia hanya ingin tetap melaju, tak ingin kemudian ia yang diburu oleh waktu, oleh candu. Ayah tak ingin hidup gagu, bisu, terlebih dungu dan hanya jadi babu bagi tuan-tuan yang tak kalah dungu itu.
Aneh. Ayah tak pernah bisa memilih. Tapi ia pun tak pernah mau berhenti melaju. Ia akhirnya akan tetap melaju meski ia tak tahu akhirnya apa yang bisa ia pilih. Entah karena apa Ayah tetap ada saat ini. Meski ia tak pernah bisa memilih. Meski ia tak pernah berhenti sejenak, menarik nafas, dan menghelanya kembali dengan hembusan yang panjang. Ayah tak pernah lakukan itu semua. Tapi ia tetap ada. Tak mati raganya, tak mati hatinya sebab terlindas kerasnya kata yang terangkai jadi bongkahan batu ragu.
3 comments:
keren..cerpen buatan sendiri ya?
salam kenal
sigit
iyah..
hehek..
makasih yak dibilang keren..
tadinya mau dijadiin novel..
tapi karena kesibukan yg gak kunjung reda yah terbengkalai deh novelnya..
hehek..
diatur dunk jadwalnya...ditunggu novelnya...
Post a Comment